Hari ini aku bahagia.Akhirnya untuk pertama kalinya aku bisa ikut tampil dalam pertunjukan angklung PPI Sendai. Meskipun, sebelum tampil sempat uring-uringan dulu (maklum juga lagi..... biasa siklus peyempuan
). Macam -macam sebabnya, mulai dari soal taksi jemputan, miskomunikasi dengan tim saman, pesanan telor matang nasi goreng ( hi hi hi ada ada aja...), tempat ganti pakaian, si supir taksi yang maunya berhenti di halte waktu nurunin Raras,dlllllll.Pokoknya sebelum tampil sempet BT banget. Intinya sih karena kekurangsabaran aku menghadapi banyak kepala dari segala suku dan dua bangsa.Maaf ya semuanya.....
(Tapi memang hikmahnya kita perlu lebih memahami kultur dimana kita tinggal dan berusaha menyesuaikan diri).
Hari-hari sebelumnya pun sempat stress waktu latihan angklung. Awal-awal latihan sebelum ada rencana tampil, latihan asyik dan oke-oke aja. Begitu waktu ada tawaran tampil, dan kita menyanggupi, dimulailah babak stress bersama angklung. Awalnya dari mbah mbah Jepang yang susah diatur. Namanya orang tua, mulai maunya sendiri. Belum lagi mereka dibawakan makanan, bukannya senang, alih-alih malah jadi masalah.Lalu, anggota tim yang berganti setiap minggu, baik orang Indonesia atau orang Jepangnya. Belum lagi jadwal kegiatan kampus yang sempat bentrok dengan jadwal latihan angklung, dan karena itu aku terlambat 1 jam latihan
. Hari itu, nyaris mogok mau berhenti ikutan angklung karena kayaknya stres juga ngejar sana-sininya biar semua bisa diikuti.
Tapi ,alhamdulillah aku tetap gabung dengan tim angklung. Kenapa? Karena sebenarnya aku bahagia bersama angklung. Setiap kali mendengarkan suara alunan angklung, suasana hati jadi gembira. Lagipula ditengah kesibukan kuliah dan penelitian, bertemu dengan tim angklung jadi hilang jenuhnya karena bisa bercanda dan ngobrol seru ama April, Bu Budi, Tria, Mbak Awi. Belum lagi kalau kita ibu-ibu lagi ngeledek-ledekin Om Agus, Au dan Izul. Seru abis!. Senang juga bisa lihat ceuceu Rahma, mbak Lula dan Sora yang imut-imut dan lucu-lucu tingkah lakunya.
JAdi, rasanya tidak ada alasan untuk berhenti main angklung
. Bahwa ditengah-tengah interaksi dengan tim angklung, ada kesalahpahaman ataupun kesenjangan komunikasi sangat tidak layak menjadi alasan untuk menghilang.Justru itu adalah proses belajar dalam perjalanan hidup.
Dalam perjalanan hidupku ini, ternyata ada pelajaran hidup yang kuperoleh dari angklung dan mesti lebih melatih kesabaran. Mesti lebih banyak belajar mengkomunikasikan pikiran dan alasan dengan cara yang lebih baik lagi. Bukan dengan
uring-uringan, meskipun sedang....
)
N932.0817.0020 Aku yang sedang kesepian....